Senin, 11 Mei 2009

Nyerah


Sedikit yang aku bayangkan tentang arti hidup ini, kekalahan dan kemenang. Terkadang hidup dituntut untuk selalu menang, namun kemenangan tak selalu didapat. Dan jika kekalahan yang datang, hanya sesal, dan kebingungan yang sealu terbayang.
Aku bingung akan arti hidup ini, karena mungkin aku sudah tak pants untuk hidup. Aku berfikir, beruntung sekali orang-orang yang mati pada saat bayi, atau yang tidak pernah dilahirkan. Hancurnya kehidupan ini, gilanya lingkungan ini, dan pemaksaan-pemaksaan yang selalu terjadi disekelilingku.
Namun aku hanya manusia, dan inilah takdir yang harus aku lalui dengan segala kelemahan ini. Cinta, persahabatan, kelompok, kuliah, bahkan di keluarga aku kadang selalu merasa kalah. Aku tak mamapu menjadi yang mereka inginkan., sehingga kadang banyak yang merasa kecewa dengan apa yang aku lakukan.
Dalam keramaian pun aku masih merasa sepi, dan seolah tak ada orang yang mampu menopangku dengan beban yang aku rasakan. Bisakah aku istirahat sejenak untuk meringankan beban yang ada dalam pikiran. Tentang apa yang terjadi dalam hidupku.
Air mataku mulai keluar tanpa ku tahu apa yang menyebabkan. Apakah semua kesalahn ini yang selalu kulakukan? Aku selalu dipandang rendah di hadapan mereka. Aku sendiri tak tahu, apa yang harus aku lakukan dengan kondisi yang seakan tak berdaya ini. Aku ingin memiliki, namun tak dapat memiliki, aku ingin memilih, namun tak dapat memilih, aku ingin meminta, namun tak dapat rasa hati untuk meminta.
Huuuh….. stress aku….

Minggu, 10 Mei 2009

KUPINANG KAU DG JANJI


Janji, visi dan misi, serta orasi biasanya dilakukan pada saat kampanye di mulai. Namun kali ini ada yang beda. Upaya untuk mempertahankan posisi sebagai penguasa Negara selalu dilakukan. Dan itupun terjadi di Negara tercinta kita ini, Indonesia.
Ada pepatah mengatakan “mempertahankan adalah lebih sulit dari mendapatkan”. Kata-kata itulah yang saat ini “menghantui” pemimpin Negara ini. Alih-alih membuat rakyat bahagia, ternyata di dalamnya terselubung niat untuk mencari simpati dari rakyat.
Sekolah gratis, gaji PNS naik, adalah merupakan beberapa cara dari sekian banyak cara yang digunakan guna mempertahankan posisi. Kita pun mengetahui, 5 tahun kepemimpinan, pendidikan seperti tidak mendapatkan perhatian. Bahkan siswa serasa di permainkan dengan program pendidikan pemerintah.
Bantuan Oprasional Sekolah atau yang selama ini kita menyebutnya BOS, yang seharusnya mampu meng-gratis-kan biaya pendidikan, ternyata masih saja banyak rakyat kecil yang mengeluh akan mahalnya biaya pendidikan. Serta tidak diimbanginya sarana-prasarana yang memadahi, samakin membuat hati miris akan traggedi pendidikan yang terjadi di Indonesia.
Kini, pendidikan menjadi bahan kampanye yang empuk, padahal sebisa mungkin pendidikan jangan pernah dijadikan bahan kampanye. Karena pendidkan adalah seperti hal yang sangat sensitive, mengingat pendidikan di Indonesia cukup mahal. Dua kali sudah SBY menjajikan pendidikan gratis bagi rakyat. Namun tetap saja, pendidikan seolah menjadi momok yang menyeramkan bagi rakyat.
Rakyat seolah-olah di iming-iming dengan kemudahan untuk mendapatkan pendidkan. Mungkin dengan dana BOS yang itu pun malah menyengsarakan rakyat. Dengan menaikan harga BBM, pemerintah beralasan untuk mempermurah biaya pendidkan. Namun tetap saja ujung-ujungnya rakyat juga yang dikorbankan. BBM naik semua kebutuhan pokok naik, rakyat pun malah sengsara karena gaji pegawai swasta tetap.
Masih berlakukah iklan sekolah gratis? Jawabannya ternyata masih. Gembar-gembor yang pada pemilu 2004 sangat diharapkan bisa membantu rakyat kecil namun malah menyengsarakan. Kini akan terulang dan bahkan sudah terulang sebelum Pemilu 2009.
Disini posisi rakyat seolah orang yang akan dilamar oleh pemimpin yang akan turun. Sekolah gratis seolah menjadi “mas kawin” yang akan diberikan kepada rakyat jika ia terplih lagi. Namun sudahkah rakyat merasakan enaknya sekolah gratis? Nyamannya fasilits sekolah? Profesionalnya pendidik yang mengajar? Bahkan layanan yang diberikan?. Hampir semuanya belum.
Pada dasarnya yang di butuhkan bukanlah sekolah gratis. Namun bagaimana pendidikan di Indonesia yang saat ini begitu mengenaskan, menjadi pendidikan yang nyaman bagi masyarakat serta para pengajar yang professional. Jika pengajar belum mampu profesional, sekolah gratis selama apapun akan sama saja. Karena yang di butuhkan adalah tenaga pendidik, bukan sekolah gratis, yang selalu di gembar-gemborkan menjelang pemilu. Mulai dari pemilu Bupati, Gubernur bahkan Presiden.

Rabu, 06 Mei 2009

KPU!, Kemana Rakyat Kau Bawa?


Ketika kita menengok kebelakang kembali tentang even ter ”heboh” yang ada di Indonesia, yakni pemilu 2009. Banyak sekali terjadi kekurangan di sana-sini. Mulai dari Daftar Pemilih Tetap, tertukarnya surat suara di beberapa daerah, serta sosialisasi yang kurang kepada masyarakat. Sehingga banyak pemilih yang kebingungan tetang cara memilih. Apakah mencoblos seperti pemilu sebelumnya?, atau mencontreng seperti cara memilih seperti pemilu kali ini.
Berbagai kekurangan tersebut tak lepas dari campur-tangan KPU, yang pada pemilu kali ini menghabiskan dana yang lebih besar dari pemilu yang dulu. Padahal jika dikaji kembali, pemilu yang dahulu tidak memerlukan dana yang besar namun tergolong sukses. Namun pemilu saat ini yang menghabiskan dana lebih banyak, pelaksanaannya makin tidak bagus.
Seperti contoh di atas, Daftar Pemilih Tetap yang amburadul dan tidak Up Date. Sepaerti yang terjadi di Lamongan. KPU setempat masih memasukan Amrozi sebagai DPT di desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Belum lagi sosialisasi yang kurang dan membingungkan para pemilih.
Serta perbandingan 4 kartu suara yang ukurannya hampir sama dengan dua lengan orang dan waktu yang di tentukan sungguh ironis jika pemilu dapat berlangsung dengan baik. Jika di hitung satu pemilih membutuhkan waktu untuk mengisi 4 kartu suara adalah 5 menit di kali jumlah pemilih misal saja satu TPS 200 pemilih maka waktu yang dibutuhkan (5x200=1000 menit atau kurang lebih 16 jam). Sedangkan waktu memilih hanya mulai jam 7.00-12.00. yakni kurang dari 6 jam. Bagaimana pemilu bias efektif jika pemilih belum paham dan waktu yang diberikan tidak seimbang.
Jika begitu, tidak salah jika banyak orang yang memilih untuk tidak memilih atau Golput. Selain waktu yang disediakan para warga desa banyak yang memilih untuk tetap bertani dari pada memilih yang bagi mereka memilih dan tidak memilih sama saja.
Loyonya ketua KPU
Ternyata selain calon legislative (caleg) yang loyo dan lemas menanti hasil pemilu, ternyata ketua KPU juga banyak yang KO pada saat penghitungan suara. Di beberapa daerah ketua KPU tiba-tiba pingsan karena terlalu capek menghitung hasil pemilu.
Inilah yang disebut senjata makan tuan. Ketika pemilu belum siap dan di pakasakan, terbukti ketua KPU pun menjadi korban kurang siapannya dalam pemilu 2009. Ketika masyarakat membutuhkan hasil yang kongkrit dan baik, maka yang didapatkan adalah segala kekurangan.
Namun memang tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan KPU. Sesempurna mungkin rancangan yang dibuat. Tetap saja ada kekurangan dimana-mana, dan lagi-lagi rakyat yang menjadi korban dan sengsara.
Sebelum penghitungan selesai, rakyat sudah dibingungkan kembali dengan Koalisi-koalisi yang tidak pasti, dan hanya mementingka kepentingan partai tanpa memikirkan kepentingan rakyat.
Kamanakah rakyat dibawa oleh pemerintah melalui pemilu?

Rabu, 22 April 2009

RATING FILM




Ketika kita menonton TV , apakah kita menyadari berapa besar peminat, jumlah pemirsa, serta perbandingan antara acara TV yang satu dengan yang lain. Ada beberapa cara bagaiman kita mengetahui jumlah audience dalam suatu acara dan televisi.
RATING
Rating adalah besarnya presentase rumah tangga pemilik TV yang menonton acara tertentu dari pemilik TV di daerah tertentu.
Rumus:
Rating (%)= Audience : Universe x 100%
Contoh:
Pemilik TV (univers): 2800 rumah tangga
Yang menonton program “a” (audience) = 500 rt
Yang menonton program “b” (audience) = 300 rt

Rating program “a” =
500:2800x100%= 17,86 = 18
Jadi rating program ”a” adalah 18, karena 17,86 di bulatkan menjadi 18.
Rating program “b” =
300:2800x100%= 10,71=11
Jadi rating program “b” adalah 11, karena 10,71 di bulatkan menjadi 11.
Begitulah cara menghitung rating program TV.

Penghitungan Rating ini menggunakan cara dengan mengambil sample dari beberapa rumah tangga di Daerah tertentu. Dan dari jumlah sample tersebut akan di ketahui berapa banyak keluarga yang menyalakan TV dan berapa banyak jumlah program yang di saksikan keluaraga yang menjadi sample.

Senin, 20 April 2009

MEMPERCANTIK FOTO



MENGEDIT FOTO

1. Siapkan gambar anda.
2. pilih image – adjust – Brightness/Contras, untuk mengedit gelap terang dan kontrasnya.
3. Pilih Image – adjust – Hue/Saturation, untuk mengatur warna
Geserlah segitiga pada boks dialog tersebut

FOTO BARU JADI KUNO

1. Siapkan gambar anda.
2. Pilih Image – adjust – Hue/Saturation.
3. Centanglah tulisan Colorize,
Geserlah segitiga pada boks dialog tersebut

MEWARNAI FOTO DENGAN CEPAT.

1. Bukalah gambar yang akan anda warnai.
2. Jika anda menginginkan sebagian saja diberi warna buatlah seleksi dengan menggunakan seleksi tool.
3. Pilih Image – adjust – Variation.
4. Anda tinggal memilih warnanya. Apabila anda kurang cocok dengan warnanya Click Original yang berisi gambar aslinya.
5. Click Lighter untuk menambah warna terang.
6. Click Darken untuk menambah warna gelap.

MEMBERI EFEK POSTER.

1. Bukalah gambar yang akan diberi efek poster.
2. Pilih Image-adjust-Treshold.
3. Aturlah hasilnya dengan menggeser segitiga pada boks dialog.

MEMBERI EFEK GAMBAR TV

1. Bukalah gambar yang akan diberi efek gambar TV.
2. Tambahkan layer baru. Isilah dengan warna putih.
3. Click filter-sketch-Haltone pattren
4. Atur besar garis dengan menggeser segitiga pada Size dan Contrast.
5. Untuk patren Type pilih Line.
6. Click OK
7. Atur Opasitinya.

Minggu, 19 April 2009

Film Yang Mana?


Pernahkah kita berfikir? tentang apa yang kita saksikan di layar televisi akhir-akhir ini. Ya... Banyak sekali film-film yang kurang mendidik, dan sedikit film yang saya rasa mendidik. Meskipun itu ada, itu hanya sedikit dan masih kalah dari film-film komedi dan horor yang ditayangkan di bioskop.
Abilah contoh Film Gie, Denias, Laskar Pelangi. Hanya sebatas itukah film yang mendidik? sedangkan Film HOROR, film KOMEDI, dan film-film yang menjurus ke arah yang tidak mendidik malah menjadi film favorit di kalangan penikmat film.
Kita lihat film-film HOROR. Apakah memang sudah benar-benar horor. Bagi saya yang menakutkan bukanlah hantu yang ada di dalam film tersebut. Tapi malah adegan-adegan syur di dalam film tersebut. Apalagi film komedi, Mulai zaman warkop DKI hingga kini film-film komedi kebanyakan hanya menonjolkan adegan syur yang di rangkai sedemikian rupa hingga membuat penonton tertawa.
Kalau film tersebut di saksikan oleh anak kecil. Siapakah yang harus disalahkan? pembuat film, penonton, atau distributornya.
Memang sudah ada lembaga sensor yang di tugaskan mengawasi peredaran. Namun namanya juga manusia, pasti ada saja yang kecolongan (terlewatkan). Ada-ada saja yang terjadi di dunia perfilman kita.
Tak hanya film. bahkan acara-acara televisi sudah banyak yang kurang mendidik. Apakah yang dicari sekarang ini hanya keuntungan belaka? tanpa memperhatikan efek yang terjadi pada penonton yang menyaksikan. Lalu film yang mana yang MANA yang baik untuk kita konsumsi?

Sabtu, 18 April 2009

Dokumenter


Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah "dokumenter" pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.
Di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Berdasarkan definisi ini, film-film pertama semua adalah film dokumenter. Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya kereta api masuk ke stasiun. pada dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan. Artinya film dokumenter berarti menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.
Dokumenter Modern
Para analis Box Office telah mencatat bahwa genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth. Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar.
Perkembangan film dokumenter cukup pesat semenjak era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya Errol Morris stylized re-enactments, dan karya Michael Moore: Roger & Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Pada kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo films atau docu-ganda.[1] Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.
Kesuksesan mutakhir pada genre dokumenter, dan kemunculannya pada keping-keping DVD, telah membuat film dokumenter menangguk keuntungan finansial meski tanpa rilis di bioskop. Meski begitu pendanaan film dokumenter tetap eksklusif, dan sepanjang dasawarsa lalu telah muncul peluang-peluang eksibisi terbesar dari pasar penyiaran. Ini yang membuat para sineas dokumenter tertarik untuk mempertahankan gaya mereka, dan turut mempengaruhi para pengusaha penyiaran yang telah menjadi donatur terbesar mereka.[2]
Dokumenter modern saling tumpang tindih dengan program-program televisi, dengan kemunculan reality show yang sering dianggap sebagai dokumenter namun pada kenyataannya kerap merupakan kisah-kisah fiktif. Juga bermunculan produksi dokumenter the making-of yang menyajikan proses produksi suatu Film atau video game. Dokumenter yang dibuat dengan tujuan promosi ini lebih dekat kepada iklan daripada dokumenter klasik.
Kamera video digital modern yang ringan dan editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri.
Dikutip dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Film_dokumenter

Luluskah Aku....


Entah apa yang diharapkan dari ujian nasional. Apakah untuk mencari tunas bangsa yang unggul, atau hanya untuk formalitas saja. Tak sedikit siswa SD, SMP, dan SMA yang malah terbebani karena Ujian Nasional. Dari apa yang saya alami, Ujian hanya untuk mencari nama dan menjaga gengsi antar sekolah.
Berapa kali sudahkah kita mendengar anak yang bunuh diri gara-gara tidak lulus, anak yang merasa terkucil dari teman-temanya yang sedang bahagia karena lulus. Bahkan ada di sekolah-sekolah daerah yang malah menghancurkan tempat belajar-nya selama tiga tahun. Itu hanya disebabkan mereka tidak lulus.
Bahkan ada yang merasa tidak adil, karena jeripayah, baik fisik maupun finansial terkuras selama 3 tahun hanya dibayar dengan empat hari yang menentukan. Apakah lulus, atau tidak.
Dan fakta yang saya temukan adalah antara pengawas dan sekolah sengaja bersekongkol, agar siswa dapat lulus semua. Apakah ini yang diharapkan dari ujian nasional. Jika hanya begitu, mengapa para siswa harus membayar dengan harga yang cukup mahal untuk mengikuti ujian. Dan banyak sekali orang tua murid yang sengaja berhutang agar anaknya mengikuti ujian. Bagus jika jeripayah ber-hutang itu dibayar dengan sebuah ke-lulusan, namun jika tidak lulus. Bisa-kah kita membayangkan?
Jika kita berada di posisi tersebut, apa yang akan kita rasakan. Sore ini tak sengaja saya membaca koran. Seorang ibu menangis di sekolahan anaknya. Hanya karena biaya Rp. 485.000 yang tak mampu di bayarkan. Sukakah kita dengan kisah seperti itu?
Sekarang tinggal melihat, bagaimana pelaksanaan ujian tahun ini? Apak sukses seperti yang kita harapkan? Atau malah membuat miris hati kita.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host