2 Lembaga tak Mau Kalah


Aneh juga, jika dua lembaga hukum di negara kita ini malah meributkan hal-hal yang tak begitu penting.

KPK vs POLRI ato cicak vs Buaya. Sampai saat ini masih belum ada yang mau mengalah. Kedua nya saling bersi tengang untuk mempertahankan argument mereka.lihat saja kutipan berita ini..

Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) kembali menegaskan dirinya dan para pejabat Polri lainnya tak akan mundur dari jabatannya. Hal ini menyusul desakan mundur yang semakin santer digaungkan oleh banyak pihak, termasuk juga Tim 8.

"Tidak ada yang akan mengundurkan diri di antara kami," ujar Kapolri dalam rapat kerja Komisi III DPR dengan Polri, Kejagung, KPK di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (19/11/2009).

Terkait berbagai macam isu yang menghantam Polri akhir-akhir ini, BHD menegaskan Polri akan tetap solid. Dia bahkan menyatakan tidak ada prinsip di Polri untuk mundur.

"Tidak ada yang akan mundur kecuali masa pensiun, kecuali diundurkan oleh Yang Maha Kuasa. Prinsipnya untuk mundur tidak ada, prinsipnya kesatuan Polri solid," tegas BHD.

Pada kesempatan itu, Kapolri juga ditanya salah satu anggota Komisi III DPR bahwa Polri adalah lembaga superbody. Hal ini menyusul kondisi terakhir yang merupakan dampak dari kasus kriminalisasi KPK di mana kekuatan Polri nampak seperti tak terbatas. Atas pertanyaan itu, BHD dengan tegas membantahnya.

"Kami tidak sama sekali lembaga superbody, kami menyadari kami adalah pelayan, pengayom dan penegak hukum," tegas dia.

BHD menjelaskan bahwa Polri sebagai lembaga penegak hukum di Indonesia akan senantiasa melakukan tugas sesuai prosedur yang ada.”


"Kalau ada fitnah oknum kami di lapangan dan melakukan tindakan tidak percaya, pastinya akan kami tindak dengan hukum. Tidak benar bahwa kami lembaga superbody," tutur BHD.


Bagaimana Indonesia bisa aman dan tentram jika antara sesama lembaga Hukum saling bersi tegang hingga menjadi konsumsi publik.

Yang rakyat butuhkan adalah keamanan yang terjamin. Bukan orang-orang yang dipercaya malah saling menyalahkan.

Guruku Jahat


Baru satu minggu sekolah memasuki hari efektif. Mungkin banyak siswa yang telah mendapatkan pengalaman batu di dalam mencari ilmu. Namun masih ada saja oknum yang melakukan kekerasan dalam dunia pendidikan.
Namun kali ini bukan dalam Masa Orientasi Siswa (MOS), namun dalam masa efetif. Sebut saja Yolanda, siswa kelas tiga Sekolah Dasar asal Sumatra Utara ini mendapatkan bogeman mentah dari kepala sekolahnya.
Kejadian ini berawal ketika Yolanda ingin menenangkan teman-temannya yang rebut di dalam kelas. Dalam usahanya menenangkan kelas ia melakukan segala cara, bahkan ia memukul-mukul meja yang naasnya kepala sekolahnya berada di ruangan sebelahnya. Dan mengira bahwa Yolanda yang menyebabkan kegaduhan itu. Tanpa banyak pikir dua kali tamparan dilayangkan ke pipi Yolanda.
Kasihan sekali Yolanda, berniat menenangkan temannya yang sedang gaduh, malah Yolanda sendiri yang terkena batunya dengan mendapatkan tamparan dari kepala sekolahnya. Namun, sang kepala sekolah pun itu ia lakukan karena Yolanda tidak menjawab ketika ia ditanya siapa yang memukul-mukul bangku.
Namun seharusnya tidak usah ada kekerasan yang terjadi didalam dunia pendidikan. Apalagi hingga membuat siswa yang mengalami kekerasan tersebut menjadi trauma masuk sekolah. dan dimana kewibaan seorang kepala sekolah hingga tega memukul sisiwanya yang baru duduk di kelas tiga SD, apalagi ia perempuan.
Beginilah potret pendidikan di Indonesia, satu masalah belum selesai ada lagi masalah yang menghampiri. Di daerah lain ada siswa yang sekolahnya di segel Wali Kota, di tempat lain pula terjadi kekerasan.
Perploncoan dalam MOS sedikit demi sedikit sudah teratasi, kini malah kepala sekolah yang melakukan kekerasan

Realityqu bohong..


Acara televisi lagi-lagi menyuguhkan acara-acara yang bersifat kebohongan public. Dan ramalan AGB Nelson ternyata memang benar-benar terjadi. Pada tahun 2006 AGB Nelson meramalkan bahwa di Indonesia pada tahun 2009 akan banyak program tetang “realityshow”. Seiring dengan itu realityshow yang ditayangkan kebanyakan hanya bohongan, bukan realita yang terjadi di masyarakat.
Apakah ini potret hiburan televisi di Idonesia?. Realityshow yang berhubungan dengan cinta, religi, dengan keluarga dan lain sebagainya semakin banyak disuguhkan. Namun masyarakat seolah diam dan menerima kebohongan itu sebagai kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Penikmatnyapun dari segala usia, mulai dari ibu-ibu dan remaja. Entah begaimana mereka menikmati acara yang pada dasarnya hanya kebohongan public?.
Setelah infotaiment tentang gosip-gosip, sinetron yang tidak mendidik,sekarang ditambah dengan acara realityshow yang membuat mabuk kepayang ibu-ibu rumah tangga dan banyak remaja putri yang ikut menyaksikannya. Lalu, acara apa lagi yang akan membuat pemirsa televisi menerima kebohongan yang dibuat oleh produser. Dari 10 stasiun TV nasional, yang benar-benar menyuguhkan berita dan pendidikan hanya dua. Metro TV, dan TV One. Kedua stasiun televisi tersebut lebih banyak menayangkan berita-berita dan dialog interaktif yang pastinya membuat masyarakat berpikiran lebih bagus.
Sedangkan stasiun televisi yang dengan nyata-nyata memberi nama”Televisi Pendidikan Indonesia” yang lebih dikenal dengan TPI, acara-acara yang ditayangkan malah tidak berbobot. Ambil saja “si Entong dan Ronaldowati” acara yang ditujukan kepada anak-anak. Malah memberikan adegan-adegan yang tidak mendidik. Boneka bisa berjalan, boneka bisa bermain bola, entong memiliki sandal ajaib. Itukah acara mendidik, belum lagi realityshow yang di tayang kan TPI “Curhat” yang mengklaim akan menyelesaikan masalah, malah akan memperkeruh masalah.
Sekali lagi, siapa yang disalahkan?. Stasiun televisi yang menayangkan acara itu, ataukah pemirsa yang mau dengan mudah dibohongi, atau malah pemerintah yang membiarkan acara seperti itu semakin menjamur.