Rabu, 06 Mei 2009

KPU!, Kemana Rakyat Kau Bawa?


Ketika kita menengok kebelakang kembali tentang even ter ”heboh” yang ada di Indonesia, yakni pemilu 2009. Banyak sekali terjadi kekurangan di sana-sini. Mulai dari Daftar Pemilih Tetap, tertukarnya surat suara di beberapa daerah, serta sosialisasi yang kurang kepada masyarakat. Sehingga banyak pemilih yang kebingungan tetang cara memilih. Apakah mencoblos seperti pemilu sebelumnya?, atau mencontreng seperti cara memilih seperti pemilu kali ini.
Berbagai kekurangan tersebut tak lepas dari campur-tangan KPU, yang pada pemilu kali ini menghabiskan dana yang lebih besar dari pemilu yang dulu. Padahal jika dikaji kembali, pemilu yang dahulu tidak memerlukan dana yang besar namun tergolong sukses. Namun pemilu saat ini yang menghabiskan dana lebih banyak, pelaksanaannya makin tidak bagus.
Seperti contoh di atas, Daftar Pemilih Tetap yang amburadul dan tidak Up Date. Sepaerti yang terjadi di Lamongan. KPU setempat masih memasukan Amrozi sebagai DPT di desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Belum lagi sosialisasi yang kurang dan membingungkan para pemilih.
Serta perbandingan 4 kartu suara yang ukurannya hampir sama dengan dua lengan orang dan waktu yang di tentukan sungguh ironis jika pemilu dapat berlangsung dengan baik. Jika di hitung satu pemilih membutuhkan waktu untuk mengisi 4 kartu suara adalah 5 menit di kali jumlah pemilih misal saja satu TPS 200 pemilih maka waktu yang dibutuhkan (5x200=1000 menit atau kurang lebih 16 jam). Sedangkan waktu memilih hanya mulai jam 7.00-12.00. yakni kurang dari 6 jam. Bagaimana pemilu bias efektif jika pemilih belum paham dan waktu yang diberikan tidak seimbang.
Jika begitu, tidak salah jika banyak orang yang memilih untuk tidak memilih atau Golput. Selain waktu yang disediakan para warga desa banyak yang memilih untuk tetap bertani dari pada memilih yang bagi mereka memilih dan tidak memilih sama saja.
Loyonya ketua KPU
Ternyata selain calon legislative (caleg) yang loyo dan lemas menanti hasil pemilu, ternyata ketua KPU juga banyak yang KO pada saat penghitungan suara. Di beberapa daerah ketua KPU tiba-tiba pingsan karena terlalu capek menghitung hasil pemilu.
Inilah yang disebut senjata makan tuan. Ketika pemilu belum siap dan di pakasakan, terbukti ketua KPU pun menjadi korban kurang siapannya dalam pemilu 2009. Ketika masyarakat membutuhkan hasil yang kongkrit dan baik, maka yang didapatkan adalah segala kekurangan.
Namun memang tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan KPU. Sesempurna mungkin rancangan yang dibuat. Tetap saja ada kekurangan dimana-mana, dan lagi-lagi rakyat yang menjadi korban dan sengsara.
Sebelum penghitungan selesai, rakyat sudah dibingungkan kembali dengan Koalisi-koalisi yang tidak pasti, dan hanya mementingka kepentingan partai tanpa memikirkan kepentingan rakyat.
Kamanakah rakyat dibawa oleh pemerintah melalui pemilu?

0 komentar:

Posting Komentar

Trima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host